Sebuah catatan tentang laki-laki yang belum kalah, cuma belum waktunya menang.
Ada fase di hidup laki-laki yang jarang dibicarain.
Fase di mana kerjaan udah ada, hidup gak susah-susah amat, tapi hati selalu ngerasa belum cukup.
Fase “tanggung” — bukan di bawah, tapi juga belum di atas.
Lo bisa beli kopi tiap pagi, tapi belum bisa beli ketenangan buat ngajak seseorang hidup bareng.
Lo bisa traktir temen nongkrong, tapi belum yakin bisa biayain rumah tangga.
Dan di tengah semua itu, ada satu nama yang masih suka mampir di kepala — seseorang yang dulu cuma lucu, tapi sekarang kelihatan makin jauh dijangkau.
Dia kelihatan bahagia di sosial media.
Makin hari makin cantik, makin punya kehidupan yang lo pengen bisa tembus masuk.
Dan lo tahu, bukan cuma lo yang liat dia seperti itu.
Ada ratusan, mungkin ribuan laki-laki lain yang juga ngerasa “gue pengen jadi dia yang dipilih”.
Tapi lo gak nyerah.
Lo kerja keras, lembur, nabung, nahan diri dari nongkrong, sambil terus ngomong ke diri sendiri:
“Gue belum kalah. Gue cuma lagi berjuang biar pantas.”
Karena di kepala lo, cinta gak cuma soal rasa — tapi kesiapan.
Dan kesiapan gak bisa dibeli pakai kata-kata.
Dia dibangun pelan-pelan, lewat kerja keras, kesabaran, dan rasa canggung yang lo sembunyikan setiap kali ngeliat dia makin bersinar.
Kadang lo iri.
Kadang lo ngerasa, “kok hidup gue gini-gini aja, ya?”
Temen-temen mulai nikah satu per satu, punya rumah, punya anak, dan lo masih di tempat yang sama, mikirin cicilan dan target kerja.
Tapi di balik semua itu, ada semangat kecil yang gak padam — semangat buat nunjukin bahwa lo juga bisa, cuma waktunya belum datang.
Ada malam-malam di mana lo liat story dia, hanya bisa like dan hati lo cuma bisa senyum kecut.
“Dia kelihatan bahagia,” lo bilang dalam hati.
Lalu lo matiin layar HP dan balik kerja, pura-pura gak peduli.
Padahal, lo peduli.
Lo cuma gak mau keliatan kalah.
Di fase ini, hidup kayak permainan sabar.
Semua orang lagi lari, tapi lo gak bisa asal sprint — karena lo tahu, kecepatan tanpa arah cuma bikin lo jatuh lebih dulu.
Jadi lo jalan pelan, tapi pasti.
Lo pilih kerja daripada overthinking, pilih belajar daripada banding-bandingin hidup.
Karena lo tahu, gak ada yang lebih berat dari perasaan belum pantas buat seseorang yang lo pengenin banget.
Dan lucunya, di balik semua tekanan itu, lo tetep punya harapan kecil.
Harapan kalau suatu hari nanti, pas lo udah siap, lo bisa bilang:
“Gue udah datang lagi — kali ini bukan cuma buat suka, tapi buat bertahan.”
Lo gak tahu apakah dia bakal nunggu atau enggak.
Lo juga gak yakin apakah semesta bakal kasih kesempatan kedua.
Tapi lo tetap jalan.
Karena lo percaya, laki-laki gak diukur dari seberapa cepat dia dapet sesuatu, tapi seberapa sabar dia nyiapin dirinya buat sesuatu yang berharga.
Mungkin nanti, kalau lo udah cukup kuat, cukup tenang, dan cukup siap, lo bakal ketemu dia lagi — dalam versi kalian yang baru.
Atau mungkin gak.
Tapi itu gak masalah.
Karena di titik itu, lo udah menang.
Bukan karena dapet dia, tapi karena lo udah bisa milih diri lo sendiri.
“Gue bukan takut gagal, gue cuma takut dia keburu selesai nunggu.”
— Catatan seorang laki-laki yang masih belajar pantas.

